
Description:
Kota Tua Wisata Alternatif Murah Meriah.. Allah dan Standart Ganda.. Tangisan Untuk Yang Fiksi.. Domba Yang tak pernah menjadi Raksasa..
Contents:
Kota Tua Wisata Alternatif Murah Meriah

MASA lalu bagi sebagian orang adalah suatu masa yang indah untuk dike-nang dan dinikmati kembali. Ge-dung tua, bangunan lama adalah saksi bisu keindahan masa lalu. Dalam gedung-gedung itu terukir kisah lama yang seringkali dapat mengingatkan kejayaan dan can-tiknya masa lampau. Meskipun kini bangunan-bangunan itu telah mulai rusak termakan oleh sang waktu. Tapi begitulah kira-kira umumnya keadaan bangunan tua. Satu di antaranya adalah bangu-nan-bangunan “Kota Tua Jakarta”. Apakah Anda ingin menikmati sisa-sisa kejayaan masa lampau? Ya, di kota tua Jakarta inilah tem-patnya. Meski kemegahan ge-dung-gedung yang dulu seperti-nya congkak menjulang dan kini mulai koyak, tapi di sinilah kita bisa menikmati masa lalu. Masa di mana kota lama ini hidup dan jaya. Ko-non, kota tua Jakarta ini dibangun di lahan seluas 15 hektar. Tepatnya di lahan bekas Sunda Kelapa pada tahun 1527, kemudian dibangun oleh Fatahillah lalu diberi nama Jayakarta. Di tempat inilah dulu sinyo dan noni Belanda kerap menghabiskan waktu dengan ber-jalan-jalan, tepatnya di depan Sta-dhuisplein atau Taman Fatahillah. Jalan-jalan di depan gedung-gedung nan eksotis itu, apalagi di waktu malam, suasananya akan sangat berbeda. Kini kota tua tak lagi sepi seperti dulu. Banyak orang, termasuk pemerintah telah merencanakan akan menjadikan kota tua Jakarta sebagai ikon pari-wisata yang murah meriah, mena-rik, dan asik dinikmati, terutama sebagai wahana belajar “out door” bagi para siswa dan mahasiswa. Di kawasan Kota Tua ini kita dapat mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Museum Fata-hillah, Museum Wayang, Museum Bank BNI, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri dan masih banyak lagi lainnya. Di Museum Bank Mandiri kita dapat menikmati dan mendapat informasi tentang berbagai perala-tan perbankan jaman dulu terma-suk di dalamnya terdapat brankas dan sepeda tua sebagai alat kerja para karyawan bank di masa lalu. Berbeda lagi dengan Museum Bank Indonesia. Di museum yang berada di Jalan Pintu Besar Utara ini kita seolah diajak merunut kembali bagaimana perjalanan perbankan Indonesia sejak jaman penjajahan hingga sekarang. Sebab di sini memang tersimpan informasi tentang hal itu. Menarik-nya lagi, di Museum BI ini kita juga bisa menikmati permainan interaktif yang menggunakan proyektor khusus. Sejumlah koin melayang - layang dan kalau kita berhasil menangkapnya akan keluar informasi tentang mata uang itu. Sebenarnya sejak tahun 1972 kota tua sudah mulai dipikirkan pengelolaan dan keinginan untuk merenovasinya. Di tahun yang sama, Gubernur Ali Sadikin juga pernah menetapkan kawasan Kota Tua seluas 846 hektare ini sebagai kawasan cagar budaya. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Soerjadi Soedirdja di tahun 1992 – bahkan menerapkan Undang-Undang Per-lindungan Bangunan Cagar Budaya dan menginventarisasi 117 gedung tua yang harus dilestarikan. Termasuk gedung-gedung yang ada di kota tua itu. Kota yang pernah dijuluki se-bagai Graf der Hollanders atau Kuburan Orang Belanda Ini perla-han mulai menggeliat dengan mulai dipugarnya Taman Fatahillah di tahun 2006 lalu. Keramaian yang dulu pernah hilang sejak berjang-kitnya berbagai wabah penyakit pada abad ke-18, berbarengan dengan endapan lumpur di kanal-kanal di kawasan kota tua itu, kini seolah mulai bangkit kembali. Bahkan komunitas anak muda pe-cinta museum yang tergabung dalam Sahabat Museum, juga me-reka yang sangat menghargai sejarah seperti Komunitas Historia Indonesia pun ikut memikirkan bagaimana memajukan kota tua sebagai salah satu tujuan wisata. Salah satu caranya adalah dengan mulai mengadakan tour dan “jalan-jalan bareng” di kota tua ini. Alasan utamanya adalah, selain murah, tempat-tempat itu memang asyik dan memiliki sesuatu yang berbeda untuk dinikmati. Tak hanya me-nyejukkan mata, tapi juga menam-bah wawasan dan semakin mengerti tentang sejarah, minimal bagaimana sejarah Batavia di masa lalu. ?Slamet Wiyono/dbs
Type rest of the post here
Allah dan Standart Ganda
 Tak sedikit orang yang merasa kebingungan dengan ajaran kekristenan. Entah itu mereka yang berasal dari kalangan kristen “senior” – mereka yang sudah sejak lama menjadi kristen, atau mereka yang belum lama menjadi kristen (yunior).. Menurut mereka ada beberapa hal tentang kekristenan yang bersifat kontradiktif. Khususnya tentang hukum Allah beserta perintah-Nya yang tertuang dalam Perjanjian Lama PL.  Sebut saja satu contoh kasus tentang keinginan Allah untuk menguji Abraham, dengan meminta nyawa anaknya sebagai korban persembahan. Sebagai manusia biasa, tentunya Abraham akan merasa sulit menerima dua pilihan yang sama-sama berat ini. Dilema ini membuat dia seperti makan buah simalakama. Ditengah-tengah pilihan yang mencepit seperti ini, tanpa Iman yang teguh amatlah berat menjalaninya. Tak heran kalau Permintaan Allah yang sepertinya tak masuk akal – bahkan ada kecenderungan sering kali berubah-ubah menimbulkan kesan negatif bagi sebagian orang. Bahkan beberapa orang dengan terang-terangan menyebut tindakan Allah ini sebagai “standart ganda Allah”. Bagaimana tidak, di pasal-pasal sebelumnya Allah begitu membenci, “murka” tindakan Kain yang membunuh Habel, dua bersaudara keturunan Adam dan Hawa itu. Sampai-sampai Allah pun dengan segera memberikan hukuman kepada Kain. Anehnya, dipasal-pasal berikutnya, mengapa Allah justru meminta Abraham untuk membunuh anaknya, dengan mengatasnamakan ujian? Atas nama hukum Allah memberi ganjaran bagi mereka yang melanggar segala ketentuan-Nya – lalu atas nama kasih, dan ujian iman, lantas Allah mengorbankan hal itu demi tujuan lain. Benarkah ini “standart ganda Allah”? Menafsirkan tindakan tersebut sebagai “standart ganda Allah” tentunya amatlah terburu-buru. Implikasinya pun juga amat sangat membahayakan. Dengan statement itu, Allah telah dibuat menjadi Allah yang plin-plan oleh manusia. Allah yang hanya mementingkan diri sendiri. Allah yang mengerjakan sesuatu berdasarkan situasi (relatifis). Allah yang arogan, hanya menjalankan maunya sendiri, dan menganggap manusia tak lebih dari robot semata. Namun demikian, “berprasangka” tentang (standart ganda Allah) tentunya juga tak bisa langsung disalahkan. Mungkin kesan itu yang sementara dia dapatkan. Dan tak dapat dipungkiri, secara tersirat kesan itu memang nampak. Namun banyak orang menutup kesan itu dengan mengatasnamakan kemahakuasaan dan intervensi penuh dari Allah atas ciptaan-Nya. Tapi mau tak mau memang itulah adanya. Allah adalah pemilik hidup dan kehidupan. Allah bukan saja pemilik hidup ini, tapi Dia juga adalah pencipta yang berhak penuh atas semua ciptaan-Nya. Segala sesuatu dari tiada menjadi ada itu oleh karena karya-Nya, dan tidak ada satu hal pun yang jadi tanpa campur tangan dan persetujuan Dia. Semua milik-Nya, dan Dia berhak sepenuhnya atas segala yang ada. Dalam hal ini Allah sebagai subyek, dan ciptaan-Nya adalah objek yang sepenuhnya berada dalam genggaman si Subyek tadi. Allah adalah pemberi kehidupan. Tapi mengapa Allah justru meminta kehidupan Ishak dari Abraham? Jika Allah pemberi kehidupan, dan memang betul demikian (Kejadian 1: 26, 2: 7), bukankah itu berarti Ia berhak sepenuhnya atas kehidupan manusia. Logika antara pencipta dan ciptaan seperti inilah yang seharusnya dipegang. Logika pencipta dan ciptaan ini tidak boleh dibolak balik seenaknya. Memang teramat sulit dan seringkali membuat kita bingung tatkala kita mencoba memikirkan siapa Allah dalam segala karya dan tindakan-Nya. Banyak orang dibuat bertanya-tanya dengan segala tindakan Allah, bahkan tak sedikit yang menjadi salah paham dalam memahami tindakan-Nya. Namun demikian, alangkah baiknya sebelum memahami dan mencoba menafsirkan tindakan Allah – mengerti benar bagaimana batasan-batasan dan hakikat Allah yang adalah Tuhan itu. Slamet Wiyono/dbs 
Tangisan Untuk Yang Fiksi
 “Menangislah selama masih bisa menangis. Tapi menangislah untuk sesuatu yang pantas ditangisi”
Kesuksesan film “ayat-ayat cinta” di kancah perfileman Indonesia seolah mampu menggugah kembali para sineas-sineas muda untuk bangkit dan berkarya lebih baik lagi, disatu sisi. Di sisi lain,. fenomena kesuksesan film arahan Hanung Brahmantyo ini banyak membawa kontroversi dan perdebatan, baik dilihat dari sudut teologisnya, maupun gaya impulsif para pembesar yang sangat responsif, entah dengan maksud dan tujuan apa. Dari beberapa media yang terbit beberapa waktu lalu, minimal ada 4 nama yang secara vulgar menunjukkan respon antusiasme mereka, yang banyak orang menilainya sedikit “over”. Sebut saja Dr. Din Syamsudin, ketua PP muhamadiyah, BJ Habibie, Presiden SBY, beserta wakilnya Jusuf Kalla. Hampir semua tokoh tersebut antusias, bahkan mengaku menangis setelah menonton film “ayat-ayat cinta” – sebagai luapan emosi tanda rasa haru terhadap film itu. 
Segera setelah mas media banyak memberitakan soal tangisan Pak Presiden dan kawan-kawan ini, banyak respon dan tanggapan meluncur ke redaksi banyak media, entah itu dari media cetak, elektronik, audio, visual, maupun media akses cepat seperti internet. Ada yang menyatakan rasa simpatinya melihat tangisan Pak Presiden dan kawan-kawan, ada pula yang mengkritik, bahkan cenderung menghujat aksi antusiasme Pak Presiden terhadap film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini. Banyak orang menanyakan, “apalah maksud Pak Presiden dengan mengaku menangis didepan umum?” Apakah Pak Presiden mau tebar pesona lagi mempersiapkan diri, dengan menarik simpati sebagai bekal 2009? Ada juga yang menanyakan untuk apa Pak Presiden menangisi film “ayat-ayat cinta” yang notabene fiksi itu – padahal didunia riil yang nyata ini, masih banyak saudara-saudara kita (rakyatnya) yang miskin dan membutuhkan makan; korban lapindo yang tidur dan makan ala kadarnya; anak-anak dari Indonesia timur dan daerah lainnya yang banyak kekuarangan gizi; juga, mereka yang mengalami bencana banjir bandang di jawa timur dan berbagai daerah lainnya; Mengapa bukan mereka ini yang ditangisi? Inilah yang disesalkan banyak orang. Meskipun soal, tangis dan terharu adalah soal pribadi seseorang, dan sudah seharusnya orang lain tak perlu mencampuri hal ini. tapi berbeda dengan Pak Presiden kita, beliau adalah tokoh publik yang banyak disorot oleh banyak mata, sehingga apa yang dilakukannya pun tak luput dari tanggapan dan respon yang melihatnya. Bukankah hal ini juga sah sah saja? Dan pertanyaan banyak kalangan dilontarkan juga lantaran ada indikasi tebar pesona Pak Presiden dengan komentar dan pengakuan tangisnya. Ah.. peninglah...!!! Tangisan memang sesuatu yang natural. Tatkala orang merasakan sakit secara fisik atau mental, juga mereka yang terharu melihat sesuatu, tangisan merupakan respon yang biasa terlihat, dan memang hal ini tak salah. Menangisi sesuatu yang fiksi, seperti film, itu pun juga bukan suatu kesalahan. Tapi untuk apalah harus di umbar ke banyak orang kalau saya tadi menangis setelah menonton film “ayat-ayat cinta” ck..ck..ck... Lha wong masih banyak kok yang harus ditangisi, untuk apa harus mengumbar kesaksian tentang tangis ke banyak orang. Tangisilah diri ini – mengapa diri ini tak banyak berubah? Mengapa diri ini kok masih saja senang bergaul dengan dosa? Atau tangis sebagai lambang penyesalan dalam pohon-ampun dosa. Dan masih banyak lagi tangisan-tangisan yang perlu dilakukan oleh diri dalam hubungannya dengan relasi antara diri dan realitas sosial ataupun secara vertikal, antara diri dan Tuhan. Menangislah selama masih bisa menangis. Tapi menangislah untuk sesuatu yang pantas ditangisi. Slamet Wiyono/dbs 
Domba Yang tak pernah menjadi Raksasa
 Sudah 8 tahun gereja ku eksis, aktif melayani dan menaungi umat-Nya. Rindu akan kebenaran berita firman Tuhan ; aktualisasi diri dalam sebuah pelayanan yang konkret dari jemaat yang begitu besar membuat setiap pelayan selalu tertantang untuk terus mengisi diri, sehingga tak putus-putusnya berita kebenaran yang mencerahkan diungkap. Ini salah satunya yang membuat gereja ku eksis sampai saat ini. Meski berada ditengah krisis dan badai yang berkali-kali menghempas namun toh tak membuat gereja ku lalu jatuh terperosok ke jurang yang dalam, sampai akhirnya tak muncul lagi. Ini semua pastinya karena andil dan intervensi Tuhan atas gereja ku ini.
Sebagai sebuah “lembaga” kerohanian yang secara tidak langsung juga bertanggungjawab penuh atas iman umatnya, sudah seharusnya gereja memfasilitasi umatnya yang rindu melayani. Hal ini pun sudah dilakukan dan akan terus dilakukan. Upaya untuk terus meningkatkan setiap pelayanan dan programnya pun tentunya juga tak lupa terus dilakukan. Dan akan terus progres ke depan menjadi lebih mantap dengan jalinan sinergis yang sudah dilakukan seperti yang kita saksikan ketika merayakan hari kenaikan Kristus (1/5) kemarin. Namun prestasi yang sudah diraih tentunya tak membuat gereja ku mandeg, dan ‘berpuas hati‘. Untuk itulah belajar dari pengalaman dengan sesekali menoleh kebelakang – tak hanya sekadar tersenyum tipis rasa puas dengan langkah maju yang sudah terlewati, tapi juga merenungi setiap hal entah itu yang mengenakkan hati atau malah sebaliknya.
Teladani Yesus Yesus sebagai Tuhan dan teladan dalam melayani telah menjadi pemicu gereja ku terus memacu diri demi progresifitas dan kualitas pelayanannya. Sedikit belajar dari pelayan Yesus. Yesus sebagai guru dan Tuhan yang secara langsung mendidik muridnya dengan kasih dan pengajaran secara langsung, ternyata tak hanya dekat kepada mereka yang diajar (muridnya). Terkadang Yesus sepertinya tak memedulikan muridnya dengan segala urusan pribadi mereka, dan keegoisan mereka – sampai soal duduk pun diperdebatkan. Tak jarang Yesus justru lebih terbuka dan dekat dengan mereka yang ada diluar lingkaran muridnya. Disanalah orang sakit, ‘ pekerja sex ‘, tukang tipu, koruptor dan banyak orang berdosa Dia pedulikan. Lingkaran eksklusif tak pernah membuat-Nya menjadi tertutup dengan dunia yang lebih luas di depan. Sebab Yesus tahu bukan hanya keduabelas orang itu saja yang layak diselamatkan – ada banyak orang yang perlu mendapat keselamatan dan mendengar berita suka cita dari-Nya. Bahkan dalam sebuah ilustrasi yang terdapat dalam Alkitab pun pernah dinyatakan bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tapi orang sakit. Dan Yesus tahu benar tentang tugas-Nya ini. Tak sekalipun Yesus terjebak dalam kemutlakan dan pentingnya sebuah identitas sosial dan level tertentu. Entah itu dalam hal spiritual maupun gambaran orang terhadap dirinya. Sebagai seorang “pelayan” lebih tepatnya pengasih, Yesus adalah seorang pengasih yang sangat membumi dan tahu percis bahwa apa yang dibutuhkan oleh orang sekitarnya – bukan sebuah pengakuan masuk dalam kumpulan kedua belas murid “kelompok elite” yang dipimpin-Nya, namun kedekatan Dia dengan yang dilayani dan kasihnya terhadap mereka yang dianggap kecil. Meski Yesus sendiri tahu bahwa kadangkala ada motivasi tak lurus dari target pelayanan-Nya, ditambah teriakan mereka yang tak mengenakkan. Sikap tegas memang harus Dia tunjukkan, namun tak sekalipun dia meninggalkan kumpulan domba yang tersesat lagi itu. Apalagi menganggap mereka tak lebih dari kumpulan domba kecil yang coba berteriak ditengah kumpulan raksasa. Domba kecil yang terus meneriakkan urusan raksasa, namun dicibir karena tak mungkin dia akan menjadi raksasa, apa lagi masuk dalam kumpulan raksasa yang hebat itu. Slamet Wiyono

Hidup Dibawah Bayangan Masa Lalu
 Masih ingatkah anda dengan tukul, pelawak senior yang sudah malang melintang di jalanan, dan dunia seni, khususnya dalam seni menghibur (pelawak). Ya.. sekarang coba ingat lagi satu kalimat yang tak terlalu sering tukul ucapkan – tapi tatkala tukul diejek dengan bahasa Inggrisnya yang belepotan, sulit dimengerti, meski oleh orang bule sekalipun. Kalimat itu adalah “ora po po, aku di hina; yo wes ben, saya ini kan memang wong ndeso, ortodoks, juga konservatif”. Kontan saja gelak tawa, terdengar menggemuruh dari para pemirsa dan tamu yang secara live menyaksikan acara itu. Tukul memang sosok yang unik. Baginya reggae dan masa lalu tak mungkin dia lupakan. Bahkan ke-jadulannya itu diakuinya sebagai sesuatu yang ndeso, ortodoks dan konservatif (berdasarkan pengakuannya dalam salah satu episode acara talkshow yang diasuhnya). Masa lalunya merupakan jalur cerita yang menyakitkan sekaligus yang menyenangkan. Kini setelah dia sukses, tak sekalipun ia ingin meningalkan masa lalunya. Hidupnya penuh dengan romantisime dan bayangan masa lalu. Apakah ini jelek? Tentu tidak. sebab masa lalu adalah bagian dari cerita sejarah diri yang perlu dikenang sebagai satu pemacu dan pendorong untuk selalu berucap syukur pada Sang Empunya hidup itu.  Bagaimana dengan gereja, baik sebagai lembaga maupun perseorangan? Adakah gereja yang sangat cinta dengan masa lalu (konservatif)? Kata anak muda jaman sekarang, “ya iya..lah – masa ya iya dong”. Sedikit banyak gereja masih “menghidupi masa lalu”. Dalam artian, gereja masih memakai nilai-nilai masa lalu, entah itu dalam bentuk sebuah uraian teologi, doktrin, maupun budaya barat yang melekat dalam diri setiap pembawa berita kebenaran ke tanah kita tercinta Indonesia. Lalu di kontekstualisasikan atau di inkulturisasi dengan nilai lokal yang dihidupi. Istilah Konservatif sebenarnya ditunjukan pada sebagian orang yang bertekad untuk memelihara hal-hal yang sudah lewat dan meneruskannya, sehingga menolak perubahan apapun. Prinsip yang dipegangnya adalah "seperti apa dulu aku melihat sekitarku, seperti itulah sampai sekarang dan selama-lamanya harus seperti itu. Mungkin kita pernah mendengar bahwa gererja anu, atau pendeta itu masih hidup dibawah “bayangan masa lalu”. Entah dalam bentuk romantisisme masa kejayaan gereja atau lebih karena fanatisme nya dengan teologi atau daoktrin lama. Seorang hamba Tuhan pernah menyebut teologi semacam ini sebagai “teologi fosil” – teologi lama bentukan teolog-teolog masa lalu – tentunya dirumuskan berdasarkan konteks dan tantangan yang dihadapi di masa itu. Pertanyaanya adalah jikalau “teologi fosil” dibuat berdasarkan apa yang terekam dimasa lalu, apakah sesuai dengan konteks masa kini? Gaya hidup dan teologi konservatif, umumnya menjadikan masa lalu sebagai orientasi, tolak-ukur, dan standart yang pas tentang apa yang sekarang dihidupi. Mungkin saja apa yang dihidupi itu (teologi & gaya hidup konservatif) kurang pass dengan keadaan masyarakat sekarang ini. Misalnya saja sebuah gereja dengan pengajarannya yang sangat menekankan pada doktrin mula-mula, sepertinya menolak sesuatu yang baru. Yang ditakutkan adalah, apakah nantinya juga masih selaras dengan kehidupan dan konteks masa kini? Tak perlukah penyesuaian-penyesuaian dilakukan agar lebih elastis dalam penyampaiannya, selaras dengan konteks pendengar dan kebutuhan umat. Teramat sulit memang melepaskan sesuatu yang sudah dihidupi lama – bahkan ada yang berani mengklaim bahwa satu jenis musik tertentu itu paling valid dan pass untuk di pakai di dalam gereja – sebaliknya yang lain itu “sesat”. Magnis suseno dalam pendahuluan bukunya “Menalar Tuhan” pernah mengatakan,”konteks indonesia ini sepertinya tak cocok dengan teologi barat yang menjadikan isu Tuhan, teologi, pengajaran agama yang sifatnya doktrinal, sebagai pemicu untuk memberikan jawaban pada umat tentang refleksi teologis terhadap konteks itu. Lain dengan di Indonesia, teologi, doktrin-doktrin yang berat, tak terlalu “dibutuhkan”. Yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana Tuhan, atau apa kata Tuhan tentang keberadaan mereka yang semakin “terpinggirkan” – juga apa kata Alkitab tentang hal ini. Masihkah Tuhan berpihak pada mereka yang “ditindas” dan kelaparan sepanjang hari – karena tak mampu membeli beras, dengan penghasilannya yang hanya cukup untuk membeli bubur, dengan lauk garam. Slamet Wiyono.

Home
|